Sekolah Darmorini – pengabdian kaum perempuan – didirikan pada masa kolonial Hindia Belanda oleh Bupati Blora. Dikisahkan dalam Tetralogi Pramoedya Ananta Toer, Minke dan Ang San Mei mengunjungi Kartini. Sepulang dari Jepara, mereka mampir di Blora. Minke membujuk kakeknya, sang Bupati, agar mendirikan sekolah bagi kaum perempuan berdasar gagasan Kartini. Kelak, selepas pendudukan Jepang, di sekolah ini pula ibu saya bersekolah.
Sekolah itu didirikan tiga ratus meter di belakang kompleks kabupaten. Kini, bangunan itu masih terawat (sudah dua tahunan ini cat berganti menjadi cokelat). Sekolah di jalan dr soetomo, Keluruhan Kunden, Kecamatan Kota Blora, itu digunakan Sekolah Dasar Negeri 1 Kunden.
Minggu, 22 September 2013
OERIPAN NOTOHAMIDJOJO Pendiri UKSW Salatiga
Dr. Oeripan Notohamidjojo adalah pendiri dan rektor pertama Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Notohamidjojo mengawali pendidikan di Hollandsch Zendingschool/Sekolah Dasar Tujuh Tahun (1922-1929), lalu melanjutkan ke Christelijke Hollands Inlandse Kweekschool/Chr. HIK Solo (sekolah pendidikan guru 1929-1935), Hoofdactecursus Bandung (1935-1938, mendapatkan akta kepala sekolah dasar). Pada 1949-1956 dia kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, lalu 1949-1956 di Fakultas Pengetahuan Masyarakat Universitas Indonesia.
Pada 1938 dia mengawali karier pengabdian sebagai guru sekolah dasar Prins Bernhard School Solo. Pada masa penjajahan Jepang, dia jadi Kepala Sekolah Kristen Banjarsari, Solo (bekas Koningin Emma School), juga guru sejarah Shihang Gakko Solo (sekolah pendidikan guru Jepang). Pada 1945 dia Ketua Bidang Politik PGRI dan masuk menjadi anggota Parkindo. Pada 1956 dia menjadi Rektor PTPG Kristen Indonesia di Salatiga dan 1959 Rektor Universitas Kristen Satya Wacana (perubahan nama dari PTPG Kristen Indonesia).
Pada usia 21 tahun, Notohamidjojo menjadi penulis di Surat Kabar De Locomotief dan Soerabajaasch Handelsbald tentang masalah-masalah kemasyarakatan. Tahun 1951, dia menulis buku Iman Kristen dan Politik, yang diterbitkan Penerbit BPK. Juga jadi anggota staf redaksi De Zaaier, serta menulis berbagai artikel sekitar kejawen dan kekristenan dan pertaliannya dengan praktik penginjilan di Jawa.
Dia menyistematikakan filsafat hukum menjadi asal, hakikat, tujuan hukum manusia dalam hukum, dan norma-norma etis-religius antara lain kebenaran dan keadilan dalam mempraktikkan hukum dan menjadi dosen di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang. Tahun 1967, dia menerbitkan buku Tanggung Jawab Gereja dan Orang Kristen di Bidang Politik dan 1970 Mengindoktrinasikan Demokrasi Pancasila kepada masyarakat Kristen, serta Masalah Keadilan yang berisi pernyataan keprihatinan karena Pancasila dan keadilan sosial mulai hilang dan diremehkan.
Notohamidjojo juga jadi dosen di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan 1964-1970 mengikuti berbagai seminar akademis antarperguruan tinggi Kristen di Hong Kong, Tokyo, Manila, New York, Belanda, dan Wina. Pada 4 September 1972, dia menerima gelar doktor honoris causa ilmu hukum dari Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda, yang disampaikan Rektor Prof. W.F. De Gaay Fortman.
Notohamidjojo dilahirkan di Blora tahun 1915 dari keluarga Abdullahfatah, tokoh hukum agama dan pergerakan Islam. Jika menelusuri garis keturunan ke atas dapat ditemukan tokoh-tokoh yang menjabat di pemerintahan dan keagamaan. Agaknya dalam diri Notohamidjojo bersatu dua cabang keahlian itu secara serasi. Dia rektor berkeahlian ilmu hukum, manajer-administrator berpola kepemimpinan bapak, serta orang awam peminat teologia dan penggumul filsafat aliran Dooyeweerd.
Tahun 1945 mulai ada kebebasan bergerak dalam organisasi, Dr. Notohamidjojo aktif sebagai anggota pengurus besar PGRI sebagai ketua bidang politik. Dia juga masuk Parkindo berdasar keyakinan: perlu ada partai Kristen. Namun dia bersikpa terbuka atas pandangan orang Kristen yang menggabungkan diri dengan partai non-Kristen, asal partai itu mengakui Pancasila sebagai filsafat negara dan memperjuangkan demokrasi dan keadilan sosial, khususnya PNI dan PSI aliran Sjahrir.
Notohamidjojo peka sekali terhadap gelagat dan kemungkinan bentrokan antargolongan Islam dan komunis, yang pasti memerlukan sikap tegas dari masyarakat Kristen. Bagi dia, butuh kebijaksanaan tahun 1964-1965 ketika kekuatan komunis merembes masuk ke UKSW. Ancaman komunis dia lihat sebagai bahaya yang merongrong Pancasila.
Ketika gereja pun mulai keresapan “roh zaman”, misalnya usul supaya menasakomkan majelis di suatu jemaat besar suatu kota, peringatan dia lontarkan melalui pidato, khotbah, dan tulisan untuk membangkitkan kewaspadaan gereja dalam mengikuti gerak kemasyarakatan. Dia menganjurkan tiga sikap: jujur seperti burung merpati, berani seperti sahid, dan cerdik seperti ular.
Tahun 1951 dia menulis buku Iman Kristen dan Politik untuk menjelaskan pada orang Kristen akan tugas mereka membangun negara merdeka yang masih muda. Tahun-tahun berikutnya kesempatan menulis dengan bebas sangat terbatas karena situasi politik. Baru 1967 muncul buku dia Tanggung Jawab Gereja dan Orang Kristen di Bidang Politik. Dia mendorong orang Kristen berpartisipasi dengan tanggung jawab mengembangkan negara.
Pada 1938 dia mengawali karier pengabdian sebagai guru sekolah dasar Prins Bernhard School Solo. Pada masa penjajahan Jepang, dia jadi Kepala Sekolah Kristen Banjarsari, Solo (bekas Koningin Emma School), juga guru sejarah Shihang Gakko Solo (sekolah pendidikan guru Jepang). Pada 1945 dia Ketua Bidang Politik PGRI dan masuk menjadi anggota Parkindo. Pada 1956 dia menjadi Rektor PTPG Kristen Indonesia di Salatiga dan 1959 Rektor Universitas Kristen Satya Wacana (perubahan nama dari PTPG Kristen Indonesia).
Pada usia 21 tahun, Notohamidjojo menjadi penulis di Surat Kabar De Locomotief dan Soerabajaasch Handelsbald tentang masalah-masalah kemasyarakatan. Tahun 1951, dia menulis buku Iman Kristen dan Politik, yang diterbitkan Penerbit BPK. Juga jadi anggota staf redaksi De Zaaier, serta menulis berbagai artikel sekitar kejawen dan kekristenan dan pertaliannya dengan praktik penginjilan di Jawa.
Dia menyistematikakan filsafat hukum menjadi asal, hakikat, tujuan hukum manusia dalam hukum, dan norma-norma etis-religius antara lain kebenaran dan keadilan dalam mempraktikkan hukum dan menjadi dosen di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang. Tahun 1967, dia menerbitkan buku Tanggung Jawab Gereja dan Orang Kristen di Bidang Politik dan 1970 Mengindoktrinasikan Demokrasi Pancasila kepada masyarakat Kristen, serta Masalah Keadilan yang berisi pernyataan keprihatinan karena Pancasila dan keadilan sosial mulai hilang dan diremehkan.
Notohamidjojo juga jadi dosen di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan 1964-1970 mengikuti berbagai seminar akademis antarperguruan tinggi Kristen di Hong Kong, Tokyo, Manila, New York, Belanda, dan Wina. Pada 4 September 1972, dia menerima gelar doktor honoris causa ilmu hukum dari Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda, yang disampaikan Rektor Prof. W.F. De Gaay Fortman.
Notohamidjojo dilahirkan di Blora tahun 1915 dari keluarga Abdullahfatah, tokoh hukum agama dan pergerakan Islam. Jika menelusuri garis keturunan ke atas dapat ditemukan tokoh-tokoh yang menjabat di pemerintahan dan keagamaan. Agaknya dalam diri Notohamidjojo bersatu dua cabang keahlian itu secara serasi. Dia rektor berkeahlian ilmu hukum, manajer-administrator berpola kepemimpinan bapak, serta orang awam peminat teologia dan penggumul filsafat aliran Dooyeweerd.
Tahun 1945 mulai ada kebebasan bergerak dalam organisasi, Dr. Notohamidjojo aktif sebagai anggota pengurus besar PGRI sebagai ketua bidang politik. Dia juga masuk Parkindo berdasar keyakinan: perlu ada partai Kristen. Namun dia bersikpa terbuka atas pandangan orang Kristen yang menggabungkan diri dengan partai non-Kristen, asal partai itu mengakui Pancasila sebagai filsafat negara dan memperjuangkan demokrasi dan keadilan sosial, khususnya PNI dan PSI aliran Sjahrir.
Notohamidjojo peka sekali terhadap gelagat dan kemungkinan bentrokan antargolongan Islam dan komunis, yang pasti memerlukan sikap tegas dari masyarakat Kristen. Bagi dia, butuh kebijaksanaan tahun 1964-1965 ketika kekuatan komunis merembes masuk ke UKSW. Ancaman komunis dia lihat sebagai bahaya yang merongrong Pancasila.
Ketika gereja pun mulai keresapan “roh zaman”, misalnya usul supaya menasakomkan majelis di suatu jemaat besar suatu kota, peringatan dia lontarkan melalui pidato, khotbah, dan tulisan untuk membangkitkan kewaspadaan gereja dalam mengikuti gerak kemasyarakatan. Dia menganjurkan tiga sikap: jujur seperti burung merpati, berani seperti sahid, dan cerdik seperti ular.
Tahun 1951 dia menulis buku Iman Kristen dan Politik untuk menjelaskan pada orang Kristen akan tugas mereka membangun negara merdeka yang masih muda. Tahun-tahun berikutnya kesempatan menulis dengan bebas sangat terbatas karena situasi politik. Baru 1967 muncul buku dia Tanggung Jawab Gereja dan Orang Kristen di Bidang Politik. Dia mendorong orang Kristen berpartisipasi dengan tanggung jawab mengembangkan negara.
Sabtu, 21 September 2013
Penyebab Musik Reggae Banyak Digemari
Musik reggae memang jarang sekali muncul di televisi dan radio. Namun, komunitas reggae bisa dikatakan yang paling besar di Indonesia. Lalu apa yang menjadikan musik ini banyak sekali penggemarnya?
Musik reggae adalah jenis musik yang santai dan enak untuk bergoyang. Dalam setiap pertunjukkan musik reggae, jarang sekali ditemukan adanya kerusuhan. Mereka juga selalu mengucapkan kata "peace" yang nyatanya memang membuat konser musik reggae selalu damai dan tertib.
Di reggae itu adalah sebuah musik perjuangan yang secara kultur juga macthing dengan kondisi di Indonesia, mereka bisa seneng-seneng sekaligus bisa mencermati isinya. Menurut Tony Q Rastafara, orang-orang yang datang dan menyukai musik reggae adalah orang-orang yang cinta damai. Kebanyakan dari mereka juga datang untuk mencari pertemanan baru dibandingkan untuk mencari musik. Hal tersebutlah yang membuat musik reggae memiliki banyak penggemar dan komunitas di Indonesia. "Mereka datang ke konser untuk mencari teman baru bukan musuh baru. Mereka datang ramai-ramai tapi enggak rusuh. Musik reggae adalah musik untuk berjuang tanpa harus pakai kekerasan," paparnya.
Musik reggae adalah jenis musik yang santai dan enak untuk bergoyang. Dalam setiap pertunjukkan musik reggae, jarang sekali ditemukan adanya kerusuhan. Mereka juga selalu mengucapkan kata "peace" yang nyatanya memang membuat konser musik reggae selalu damai dan tertib.
Di reggae itu adalah sebuah musik perjuangan yang secara kultur juga macthing dengan kondisi di Indonesia, mereka bisa seneng-seneng sekaligus bisa mencermati isinya. Menurut Tony Q Rastafara, orang-orang yang datang dan menyukai musik reggae adalah orang-orang yang cinta damai. Kebanyakan dari mereka juga datang untuk mencari pertemanan baru dibandingkan untuk mencari musik. Hal tersebutlah yang membuat musik reggae memiliki banyak penggemar dan komunitas di Indonesia. "Mereka datang ke konser untuk mencari teman baru bukan musuh baru. Mereka datang ramai-ramai tapi enggak rusuh. Musik reggae adalah musik untuk berjuang tanpa harus pakai kekerasan," paparnya.
Jumat, 13 September 2013
Ras Muhammad Duta Reggae Indonesia
Reggae bukan sekedar genre musik. Lebih daripada itu, dia adalah alat perjuangan yang mengusung budaya pembebasan, kesataraan manusia dan keadilan. Gerbong ini tumbuh dari pergerakan rakyat miskin.
Setidaknya begitu kata Ras Muhammad, duta reggae Indonesia saat berbincang dengan saya, di sekretariat Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker), di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, belum lama ini. Lho, ada ya duta reggae?
Anda tentu acapkali mendengar tentang artis yang didaulat menjadi duta narkoba seperti Slank, Sandra Dewi, Kuburan Band, Olivia Zalianty dan lain sebagainya. Tapi mungkin agak terheran-heran mendengar tentang duta reggae.
Bicara reggae tentu tak lepas dari Bob Marley. Lagu-lagunya melegenda dan dikenal orang dari zaman ke zaman. Lirik lagunya berkutat seputar kritikan terhadap penjajah, perjuangan kaum tertindas dan nilai-nilai kemanusiaan.
Sama halnya dengan Bob Marley, buah karya Ras Muhamad juga demikian adanya. Coba simak lagu berjudul Burder to Bear dalam album terbarunya yang bertajuk Next Chapter berikut ini:
Makna hidup bukan sebatas mencari kemewahan/menambah kekayaan/karena harta tak menjamin kebahagian/tak menjamin hati tetap tentram/tak menjamin hidup selalu senang/tetaplah melangkah/teruslah melangkah/hentakkan kaki biar jejakmu membekas di muka bumi.
Bunuh diri kelas
Anak semata wayang dari pasangan Wening dan Rivaiini lahir di Jakarta 29 Okober 1982. Orang tua memberinya nama Muhammad Egar. Nama Ras Muhamad sendiri didapatnya di Brooklyn, sewaktu mengenyam pendidikan di negeri Paman Sam.
"Di Brooklyn, teman-teman memanggil saya Ras. Karena nama asli saya sulit dieja dalam bahasa sehari-hari di sana. Dalam bahasa Jamaika, Ras itu artinya Bung. Seperti Soekarno yang dipanggil Bung Karno di Indonesia," urainya.
Ayahnya seorang dokter akupuntur dan ibunya seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Departemen Luar Negeri (Deplu). Tahun1993, sang ibu ditugaskan ke Amerika sebagai diplomat Indonesia di bidang ekonomi. Di saat bersamaan Ras baru saja menamatkan pendidikan di SD Harapan Ibu Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Selama di USA, bersama ibunya, Ras tinggal di New York. Dia melanjutkan sekolah di Russell Sage Junior High School dan lulus tahun 1996 kemudian masuk Forest Hills High School (setara SMA) lulus 1999.
Sebelum lulus, tahun 1997 masa tugas ibunya di USA berakhir dan harus pulang ke tanah air. Ras tidak ikut, dia menetap di USA dan tinggal bersama pamannya dan kemudian indekos bersama kawan-kawan.
"Study saya sempat break sebentar karena saya bekerja. Macam-macam yang saya kerjakan untuk mendapatkan uang. Semisal mengantar makanan dan lain sebagainya. Kadangkala juga performance street-ngamen bareng anak-anak Brooklyn," kenangnya.
Tahun 2001, untuk memperdalam dan mengasah bakat seni dalam dirinya, Ras kuliah di jurusan Liberal Arts, Borough of Manhattan Commlonity College, setara D3.
Karena rutinitasnya berkesenian dan nongkrong di Broklyn, kuliah yang semestinya tamat 3 tahun, diselesaikan dalam waktu empat tahun. Tahun 2005 dia lulus dan langsung pulang ke Indonesia.
Sebagai orang yang secara ekonomi terbilang berpunya, Ras melakukan bunuh diri kelas. Dalam kemapanan, hatinya tergetar melihat ketidakadilan. Pengagum Bung Karno ini miris melihat kesenjangan sosial ketika langgengnya sistem di mana ada manusia menindas manusia lainnya.
"Reggae itu cinta damai. Love peace! Tapibagaimana bisa damai kalau tidak ada keadilan."
Dalam perbincangan kami, Ras seringkali mengutip kata-kata Sang Proklamator. Begitu ditanya sejak kapan mempelajari Soekarnoisme, dia memberi jawaban yang cukup mencenangkan, "Semakin saya mengenal reggae semakin saya mengenal Bung Karno," tandasnya.
Ras menjelaskan, Ideologi Rastafari dan ajaran Bung Karno tak ada perbedaan. Sama-sama menyatakan; kita bukan bangsa budak,bukan bangsa kuli. Rastafari selalu menyerukan perlawanan terhadap kaum babilon. Babilon sebutan untuk kaum kapitalisme dan imprealisme.
Seraya menghisap rokok dan mengepulkan asap kelangit, Ras menyenandungkan salah satu lirik Bob Marley yang dalam bahasa Indonesia artinya; jika kau adalah pohon yang besar kami adalah kapak-kapak kecil dan kami siap menumbangkanmu. "Konteks lagu ini sama persis dengan gagasan Bung Karno yang memprakarsai Konfrensi Asia Afrika."
Tidak sekadar berteori, anak muda berambut gimbal ini turun ke jalan melebur bersama kaum pergerakan kerakyatan melawan penindasan dan ketidakadilan.
Baru-baru ini dia menggelar konser amal bersama Rizal Abdul Hadi, seniman Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker) di SMA 4 Pematang Siantar, Sumatera Utara tanpa dibayar. Sekolah itu diruislag untuk dibangun hotel. Para murid melawan meski bangku serta meja belajarnya disita pemerintah. Dana dari konser itu untuk membeli bangku, meja dan perkakas sekolah lainnya.
Tidak sampai di situ, bersama Happy Salma, SujiwoTejo dan budayawan pro rakyat lainnya, Ras juga kerap tampil di panggung seni anti korupsi yang dihelat di jalaman gedung KPK setiap malam minggu.
Tiga album
Ras mengenal Reggae di Amerika, tepatnya di Broklyn. Mulanya dia tergoda dengan Dancehall, nafas tradisional reggae yangmenyampaikan pesan-pesan spiritual Rastafari yang dimainkan kawan-kawan asaldari Karibia dan Jamaika. "Pesan-pesan spiritual Rastafari itu mirip sekalidengan nilai-nilai yang diusung Bung Karno."
Dijelaskan Ras, musik reggae itu awalnya dancehall, kemudian berkembang menjadi ska lalu roots seperti dendangan Bob Marley. Tidak sekadar musiknya, Ras juga mendalami sejarah, perkembangan dan ideologi reggae. Di Tahun 1999 rambutnya digimbal hingga hari ini.
Tak ayal jika dia berkata semakin mengenal reggae semakin mengenal Bung Karno. Pasalnya, selain banyak persamaan dengan pemikiran Bung Karno, Haile Selassie, selaku tokoh pemimpin Rastafari secara kebetulan lahir tanggal 17 Agustus. Tanggalnya mirip dengan hari kemerdekaan Indonesia.
Hingga hari ini Ras, telah melahirkan 3 album. Album pertamanya, Declaration of Truths (10 lagu) yang digubah tahun 2005 sewaktu masih di Broklyn. Album indie ini beredar di New York. Album kedua Reggae Ambassador (15 lagu) yang dirilis Januari 2007 di Indonesia juga secara Indie. Album ketiga Next Chapter yang baru saja dirilis.
Sejak menelorkan album Reggae Ambasador yang dalam bahasa Indonesia artinya duta reggae, sejak itupula gelar duta reggae melekat di dirinya.
Terkait ini dia berkomentar, "Reggae bukan sesuatu yang dianggap oleh pemerintah dan tidak ada yang mungkin melantik duta reggae kayak duta narkoba, misalnya. Siapapun yang suka music reggae, paham dengan pergerakan reggae yang anti penindasan adalah juga duta reggae."
*) Tulisan sejenis perah dimuat di Bisnis Indonesia edisi Sabtu, 28 November 2009.
**) Pemerhati seni dan bekerja sebagai jurnalis.

Setidaknya begitu kata Ras Muhammad, duta reggae Indonesia saat berbincang dengan saya, di sekretariat Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker), di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, belum lama ini. Lho, ada ya duta reggae?
Anda tentu acapkali mendengar tentang artis yang didaulat menjadi duta narkoba seperti Slank, Sandra Dewi, Kuburan Band, Olivia Zalianty dan lain sebagainya. Tapi mungkin agak terheran-heran mendengar tentang duta reggae.
Bicara reggae tentu tak lepas dari Bob Marley. Lagu-lagunya melegenda dan dikenal orang dari zaman ke zaman. Lirik lagunya berkutat seputar kritikan terhadap penjajah, perjuangan kaum tertindas dan nilai-nilai kemanusiaan.
Sama halnya dengan Bob Marley, buah karya Ras Muhamad juga demikian adanya. Coba simak lagu berjudul Burder to Bear dalam album terbarunya yang bertajuk Next Chapter berikut ini:
Makna hidup bukan sebatas mencari kemewahan/menambah kekayaan/karena harta tak menjamin kebahagian/tak menjamin hati tetap tentram/tak menjamin hidup selalu senang/tetaplah melangkah/teruslah melangkah/hentakkan kaki biar jejakmu membekas di muka bumi.
Bunuh diri kelas
Anak semata wayang dari pasangan Wening dan Rivaiini lahir di Jakarta 29 Okober 1982. Orang tua memberinya nama Muhammad Egar. Nama Ras Muhamad sendiri didapatnya di Brooklyn, sewaktu mengenyam pendidikan di negeri Paman Sam.
"Di Brooklyn, teman-teman memanggil saya Ras. Karena nama asli saya sulit dieja dalam bahasa sehari-hari di sana. Dalam bahasa Jamaika, Ras itu artinya Bung. Seperti Soekarno yang dipanggil Bung Karno di Indonesia," urainya.
Ayahnya seorang dokter akupuntur dan ibunya seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Departemen Luar Negeri (Deplu). Tahun1993, sang ibu ditugaskan ke Amerika sebagai diplomat Indonesia di bidang ekonomi. Di saat bersamaan Ras baru saja menamatkan pendidikan di SD Harapan Ibu Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Selama di USA, bersama ibunya, Ras tinggal di New York. Dia melanjutkan sekolah di Russell Sage Junior High School dan lulus tahun 1996 kemudian masuk Forest Hills High School (setara SMA) lulus 1999.
Sebelum lulus, tahun 1997 masa tugas ibunya di USA berakhir dan harus pulang ke tanah air. Ras tidak ikut, dia menetap di USA dan tinggal bersama pamannya dan kemudian indekos bersama kawan-kawan.
"Study saya sempat break sebentar karena saya bekerja. Macam-macam yang saya kerjakan untuk mendapatkan uang. Semisal mengantar makanan dan lain sebagainya. Kadangkala juga performance street-ngamen bareng anak-anak Brooklyn," kenangnya.
Tahun 2001, untuk memperdalam dan mengasah bakat seni dalam dirinya, Ras kuliah di jurusan Liberal Arts, Borough of Manhattan Commlonity College, setara D3.
Karena rutinitasnya berkesenian dan nongkrong di Broklyn, kuliah yang semestinya tamat 3 tahun, diselesaikan dalam waktu empat tahun. Tahun 2005 dia lulus dan langsung pulang ke Indonesia.
Sebagai orang yang secara ekonomi terbilang berpunya, Ras melakukan bunuh diri kelas. Dalam kemapanan, hatinya tergetar melihat ketidakadilan. Pengagum Bung Karno ini miris melihat kesenjangan sosial ketika langgengnya sistem di mana ada manusia menindas manusia lainnya.
"Reggae itu cinta damai. Love peace! Tapibagaimana bisa damai kalau tidak ada keadilan."
Dalam perbincangan kami, Ras seringkali mengutip kata-kata Sang Proklamator. Begitu ditanya sejak kapan mempelajari Soekarnoisme, dia memberi jawaban yang cukup mencenangkan, "Semakin saya mengenal reggae semakin saya mengenal Bung Karno," tandasnya.
Ras menjelaskan, Ideologi Rastafari dan ajaran Bung Karno tak ada perbedaan. Sama-sama menyatakan; kita bukan bangsa budak,bukan bangsa kuli. Rastafari selalu menyerukan perlawanan terhadap kaum babilon. Babilon sebutan untuk kaum kapitalisme dan imprealisme.
Seraya menghisap rokok dan mengepulkan asap kelangit, Ras menyenandungkan salah satu lirik Bob Marley yang dalam bahasa Indonesia artinya; jika kau adalah pohon yang besar kami adalah kapak-kapak kecil dan kami siap menumbangkanmu. "Konteks lagu ini sama persis dengan gagasan Bung Karno yang memprakarsai Konfrensi Asia Afrika."
Tidak sekadar berteori, anak muda berambut gimbal ini turun ke jalan melebur bersama kaum pergerakan kerakyatan melawan penindasan dan ketidakadilan.
Baru-baru ini dia menggelar konser amal bersama Rizal Abdul Hadi, seniman Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker) di SMA 4 Pematang Siantar, Sumatera Utara tanpa dibayar. Sekolah itu diruislag untuk dibangun hotel. Para murid melawan meski bangku serta meja belajarnya disita pemerintah. Dana dari konser itu untuk membeli bangku, meja dan perkakas sekolah lainnya.
Tidak sampai di situ, bersama Happy Salma, SujiwoTejo dan budayawan pro rakyat lainnya, Ras juga kerap tampil di panggung seni anti korupsi yang dihelat di jalaman gedung KPK setiap malam minggu.
Tiga album
Ras mengenal Reggae di Amerika, tepatnya di Broklyn. Mulanya dia tergoda dengan Dancehall, nafas tradisional reggae yangmenyampaikan pesan-pesan spiritual Rastafari yang dimainkan kawan-kawan asaldari Karibia dan Jamaika. "Pesan-pesan spiritual Rastafari itu mirip sekalidengan nilai-nilai yang diusung Bung Karno."
Dijelaskan Ras, musik reggae itu awalnya dancehall, kemudian berkembang menjadi ska lalu roots seperti dendangan Bob Marley. Tidak sekadar musiknya, Ras juga mendalami sejarah, perkembangan dan ideologi reggae. Di Tahun 1999 rambutnya digimbal hingga hari ini.
Tak ayal jika dia berkata semakin mengenal reggae semakin mengenal Bung Karno. Pasalnya, selain banyak persamaan dengan pemikiran Bung Karno, Haile Selassie, selaku tokoh pemimpin Rastafari secara kebetulan lahir tanggal 17 Agustus. Tanggalnya mirip dengan hari kemerdekaan Indonesia.
Hingga hari ini Ras, telah melahirkan 3 album. Album pertamanya, Declaration of Truths (10 lagu) yang digubah tahun 2005 sewaktu masih di Broklyn. Album indie ini beredar di New York. Album kedua Reggae Ambassador (15 lagu) yang dirilis Januari 2007 di Indonesia juga secara Indie. Album ketiga Next Chapter yang baru saja dirilis.
Sejak menelorkan album Reggae Ambasador yang dalam bahasa Indonesia artinya duta reggae, sejak itupula gelar duta reggae melekat di dirinya.
Terkait ini dia berkomentar, "Reggae bukan sesuatu yang dianggap oleh pemerintah dan tidak ada yang mungkin melantik duta reggae kayak duta narkoba, misalnya. Siapapun yang suka music reggae, paham dengan pergerakan reggae yang anti penindasan adalah juga duta reggae."
*) Tulisan sejenis perah dimuat di Bisnis Indonesia edisi Sabtu, 28 November 2009.
**) Pemerhati seni dan bekerja sebagai jurnalis.

mari bersama-sama BERSATU! mengacungkan BEDILMU...demi RAKYAT!!!
Momonon
Smile Sejarah Istilah Kata 'Reggae'
Tahun 1968 banyak disebut sebagai tahun kelahiran musik reggae. Sebenarnya tidak ada kejadian khusus yang menjadi penanda awal muasalnya, kecuali peralihan selera musik masyarakat Jamaika dari Ska dan Rocsteady, yang sempat populer di kalangan muda pada paruh awal hingga akhir tahun 1960-an, pada irama musik baru yang bertempo lebih lambat : reggae. Boleh jadi hingar bingar dan tempo cepat Ska dan Rocksteady kurang mengena dengan kondisi sosial dan ekonomi di Jamaika yang sedang penuh tekanan.
reggae
Kata “reggae” diduga berasal dari pengucapan dalam logat Afrika dari kata “ragged” (gerak kagok–seperti hentak badan pada orang yang menari dengan iringan musik ska atau reggae). Irama musik reggae sendiri dipengaruhi elemen musik R&B yang lahir di New Orleans, Soul, Rock, ritmik Afro-Caribean (Calypso, Merengue, Rhumba) dan musik rakyat Jamaika yang disebut Mento, yang kaya dengan irama Afrika. Irama musik yang banyak dianggap menjadi pendahulu reggae adalah Ska dan Rocksteady, bentuk interpretasi musikal R&B yang berkembang di Jamaika yang sarat dengan pengaruh musik Afro-Amerika. Secara teknis dan musikal banyak eksplorasi yang dilakukan musisi Ska, diantaranya cara mengocok gitar secara terbalik (up-strokes), memberi tekanan nada pada nada lemah (syncopated) dan ketukan drum multi-ritmik yang kompleks.
Teknik para musisi Ska dan Rocsteady dalam memainkan alat musik, banyak ditirukan oleh musisi reggae. Namun tempo musiknya jauh lebih lambat dengan dentum bas dan rhythm guitar lebih menonjol. Karakter vokal biasanya berat dengan pola lagu seperti pepujian (chant), yang dipengaruhi pula irama tetabuhan, cara menyanyi dan mistik dari Rastafari. Tempo musik yang lebih lambat, pada saatnya mendukung penyampaian pesan melalui lirik lagu yang terkait dengan tradisi religi Rastafari dan permasalahan sosial politik humanistik dan universal.
Album “Catch A Fire” (1972) yang diluncurkan Bob Marley and The Wailers dengan cepat melambungkan reggae hingga ke luar Jamaika. Kepopuleran reggae di Amerika Serikat ditunjang pula oleh film The Harder They Come (1973) dan dimainkannya irama reggae oleh para pemusik kulit putih seperti Eric Clapton, Paul Simon, Lee ‘Scratch’ Perry dan UB40. Irama reggae pun kemudian mempengaruhi aliran-aliran musik pada dekade setelahnya, sebut saja varian reggae hip hop, reggae rock, blues, dan sebagainya.
Jamaika
Akar musikal reggae terkait erat dengan tanah yang melahirkannya: Jamaika. Saat ditemukan oleh Columbus pada abad ke-15, Jamaika adalah sebuah pulau yang dihuni oleh suku Indian Arawak. Nama Jamaika sendiri berasal dari kosa kata Arawak “xaymaca” yang berarti “pulau hutan dan air”. Kolonialisme Spanyol dan Inggris pada abad ke-16 memunahkan suku Arawak, yang kemudian digantikan oleh ribuan budak belian berkulit hitam dari daratan Afrika. Budak-budak tersebut dipekerjakan pada industri gula dan perkebunan yang bertebaran di sana. Sejarah kelam penindasan antar manusia pun dimulai dan berlangsung hingga lebih dari dua abad. Baru pada tahun 1838 praktek perbudakan dihapus, yang diikuti pula dengan melesunya perdagangan gula dunia.
Di tengah kerja berat dan ancaman penindasan, kaum budak Afrika memelihara keterikatan pada tanah kelahiran mereka dengan mempertahankan tradisi. Mereka mengisahkan kehidupan di Afrika dengan nyanyian (chant) dan bebunyian (drumming) sederhana. Interaksi dengan kaum majikan yang berasal dari Eropa pun membekaskan produk silang budaya yang akhirnya menjadi tradisi folk asli Jamaika. Bila komunitas kulit hitam di Amerika atau Eropa dengan cepat luntur identitas Afrika mereka, sebaliknya komunitas kulit hitam Jamaika masih merasakan kedekatan dengan tanah leluhur.
Sejarah gerakan penyadaran identitas kaum kulit hitam, yang kemudian bertemali erat dengan keberadaan musik reggae, mulai disemai pada awal abad ke-20. Adalah Marcus Mosiah Garvey, seorang pendeta dan aktivis kulit hitam Jamaika, yang melontarkan gagasan “Afrika untuk Bangsa Afrika…” dan menyerukan gerakan repatriasi (pemulangan kembali) masyarakat kulit hitam di luar Afrika. Pada tahun 1914, Garvey mendirikan Universal Negro Improvement Association (UNIA), gerakan sosio-religius yang dinilai sebagai gerakan kesadaran identitas baru bagi kaum kulit hitam.
Pada tahun 1916-1922, Garvey meninggalkan Jamaika untuk membangun markas UNIA di Harlem, New York. Konon sampai tahun 1922, UNIA memiliki lebih dari 7 juta orang pengikut. Antara tahun 1928-1930 Garvey kembali ke Jamaika dan terlibat dalam perjuangan politik kaum hitam dan pada tahun 1929 Garvey meramalkan datangnya seorang raja Afrika yang menandai pembebasan ras kulit hitam dari penindasan kaum Babylon (sebutan untuk pemerintah kolonial kulit putih—merujuk pada kisah kitab suci tentang kaum Babylon yang menindas bangsa Israel). Ketika Ras Tafari Makonnen dinobatkan sebagai raja Ethiopia di tahun 1930, yang bergelar HIM Haile Selassie I, para pengikut ajaran Garvey menganggap Ras Tafari sebagai sosok pembebas itu. Mereka juga menganggap Ethiopia sebagai Zion—tanah damai bak surga—bagi kaum kulit hitam di dalam maupun luar Afrika. Ajaran Garvey pun mewujud menjadi religi baru bernama Rastafari dengan Haile Selassie sebagai sosok yang di-tuhan-kan.
Pada bulan April 1966, karena ancaman pertentangan sosial yang melibatkan kaum Rasta, pemerintah Jamaika mengundang HIM Haile Selassie I untuk berkunjung menjumpai penghayat Rastafari. Dia menyampaikan pesan menyediakan tanah di Ethiopia Selatan untuk repatriasi Rasta. Namun Haile Selassie juga menekankan perlunya Rasta untuk membebaskan Jamaika dari penindasan dan ketidak adilan dan menjadikan Rastafari sebagai jalan hidup, sebelum mereka eksodus ke Ethiopia.
Tahun-tahun setelahnya kredo gerakan tersebut makin tersebar luas, yakni “Bersatunya kemanusiaan adalah pesannya, musik adalah modus operandinya, perdamaian di bumi seperti halnya di surga (Zion) adalah tujuannya, memperjuangkan hak adalah caranya dan melenyapkan segala bentuk penindasan fisik dan mental adalah esensi perjuangannya.” Ketika Bob Marley menjadi pengikut Rastafari di tahun 1967 dan setahun kemudian disusul kelahiran reggae, maka modus operandi penyebaran ajaran Rastafari pun ditemukan: reggae!
Biography bob Marley atau bernama lengkap Robert nesta Marley
Terlahir dengan nama Robert Nesta Marley pada Februari 1945 di St. Ann, Jamaika, Bob Marley berayahkan seorang kulit putih dan ibu kulit hitam. Pada tahun 1950-an Bob beserta keluarganya pindah ke ibu kota Jamaika, Kingston. Di kota inilah obsesinya terhadap musik sebagai profesi menemukan pelampiasan. Waktu itu Bob Marley banyak mendengarkan musik R&B dan soul, yang kemudian hari menjadi inspirasi irama reggae, melalui siaran radio Amerika.
Selain itu di jalanan Kingston dia menikmati hentakan irama Ska dan Steadybeat dan kemudian mencoba memainkannya sendiri di studio-studio musik kecil di Kingston.
Bersama Peter McIntosh dan Bunny Livingston, Bob membentuk The Wailing Wailers yang mengeluarkan album perdana di tahun 1963 dengan hit “Simmer Down”. Lirik lagu mereka banyak berkisah tentang “rude bwai” (rude boy), anak-anak muda yang mencari identitas diri dengan menjadi berandalan di jalanan Kingston. The Wailing Wailers bubar pada pertengahan 1960-an dan sempat membuat penggagasnya patah arang hingga memutuskan untuk berkelana di Amerika.
Pada bulan April 1966 Bob kembali ke Jamaika, bertepatan dengan kunjungan HIM Haile Selassie I —raja Ethiopia– ke Jamaika untuk bertemu penganut Rastafari. Kharisma sang raja membawa Bob menjadi penghayat ajaran Rastafari pada tahun 1967, dan bersama The Wailer, band barunya yang dibentuk setahun kemudian bersama dua personil lawas Mc Intosh dan Livingston, dia menyuarakan nilai-nilai ajaran Rasta melalui reggae. Penganut Rastafari lantas menganggap Bob menjalankan peran profetik sebagaimana para nabi, menyebarkan inspirasi dan nilai Rasta melalui lagu-lagunya.
The Wailers bubar di tahun 1971, namun Bob segera membentuk band baru bernama Bob Marley and The Wailers. Tahun 1972 album Catch A Fire diluncurkan. Menyusul kemudian Burning (1973–berisi hits “Get Up, Stand Up” dan “ I Shot the Sheriff” yang dipopulerkan Eric Clapton), Natty Dread (1975), Rastaman Vibration (1976) dan Uprising (1981) yang makin memantapkan reggae sebagai musik mainstream dengan Bob Marley sebagai ikonnya.
Pada tahun 1978, Bob Marley menerima Medali Perdamaian dari PBB sebagai penghargaan atas upayanya mempromosikan perdamaian melalui lagu-lagunya. Sayang, kanker mengakhiri hidupnya pada 11 Mei 1981 saat usia 36 tahun di ranjang rumah sakit Miami, AS, seusai menggelar konser internasional di Jerman. Sang Nabi kaum Rasta telah berpulang, namun inspirasi humanistiknya tetap mengalun sepanjang zaman.
Tahun 1968 banyak disebut sebagai tahun kelahiran musik reggae. Sebenarnya tidak ada kejadian khusus yang menjadi penanda awal muasalnya, kecuali peralihan selera musik masyarakat Jamaika dari Ska dan Rocsteady, yang sempat populer di kalangan muda pada paruh awal hingga akhir tahun 1960-an, pada irama musik baru yang bertempo lebih lambat : reggae. Boleh jadi hingar bingar dan tempo cepat Ska dan Rocksteady kurang mengena dengan kondisi sosial dan ekonomi di Jamaika yang sedang penuh tekanan.
reggae
Kata “reggae” diduga berasal dari pengucapan dalam logat Afrika dari kata “ragged” (gerak kagok–seperti hentak badan pada orang yang menari dengan iringan musik ska atau reggae). Irama musik reggae sendiri dipengaruhi elemen musik R&B yang lahir di New Orleans, Soul, Rock, ritmik Afro-Caribean (Calypso, Merengue, Rhumba) dan musik rakyat Jamaika yang disebut Mento, yang kaya dengan irama Afrika. Irama musik yang banyak dianggap menjadi pendahulu reggae adalah Ska dan Rocksteady, bentuk interpretasi musikal R&B yang berkembang di Jamaika yang sarat dengan pengaruh musik Afro-Amerika. Secara teknis dan musikal banyak eksplorasi yang dilakukan musisi Ska, diantaranya cara mengocok gitar secara terbalik (up-strokes), memberi tekanan nada pada nada lemah (syncopated) dan ketukan drum multi-ritmik yang kompleks.
Teknik para musisi Ska dan Rocsteady dalam memainkan alat musik, banyak ditirukan oleh musisi reggae. Namun tempo musiknya jauh lebih lambat dengan dentum bas dan rhythm guitar lebih menonjol. Karakter vokal biasanya berat dengan pola lagu seperti pepujian (chant), yang dipengaruhi pula irama tetabuhan, cara menyanyi dan mistik dari Rastafari. Tempo musik yang lebih lambat, pada saatnya mendukung penyampaian pesan melalui lirik lagu yang terkait dengan tradisi religi Rastafari dan permasalahan sosial politik humanistik dan universal.
Album “Catch A Fire” (1972) yang diluncurkan Bob Marley and The Wailers dengan cepat melambungkan reggae hingga ke luar Jamaika. Kepopuleran reggae di Amerika Serikat ditunjang pula oleh film The Harder They Come (1973) dan dimainkannya irama reggae oleh para pemusik kulit putih seperti Eric Clapton, Paul Simon, Lee ‘Scratch’ Perry dan UB40. Irama reggae pun kemudian mempengaruhi aliran-aliran musik pada dekade setelahnya, sebut saja varian reggae hip hop, reggae rock, blues, dan sebagainya.
Jamaika
Akar musikal reggae terkait erat dengan tanah yang melahirkannya: Jamaika. Saat ditemukan oleh Columbus pada abad ke-15, Jamaika adalah sebuah pulau yang dihuni oleh suku Indian Arawak. Nama Jamaika sendiri berasal dari kosa kata Arawak “xaymaca” yang berarti “pulau hutan dan air”. Kolonialisme Spanyol dan Inggris pada abad ke-16 memunahkan suku Arawak, yang kemudian digantikan oleh ribuan budak belian berkulit hitam dari daratan Afrika. Budak-budak tersebut dipekerjakan pada industri gula dan perkebunan yang bertebaran di sana. Sejarah kelam penindasan antar manusia pun dimulai dan berlangsung hingga lebih dari dua abad. Baru pada tahun 1838 praktek perbudakan dihapus, yang diikuti pula dengan melesunya perdagangan gula dunia.
Di tengah kerja berat dan ancaman penindasan, kaum budak Afrika memelihara keterikatan pada tanah kelahiran mereka dengan mempertahankan tradisi. Mereka mengisahkan kehidupan di Afrika dengan nyanyian (chant) dan bebunyian (drumming) sederhana. Interaksi dengan kaum majikan yang berasal dari Eropa pun membekaskan produk silang budaya yang akhirnya menjadi tradisi folk asli Jamaika. Bila komunitas kulit hitam di Amerika atau Eropa dengan cepat luntur identitas Afrika mereka, sebaliknya komunitas kulit hitam Jamaika masih merasakan kedekatan dengan tanah leluhur.
Sejarah gerakan penyadaran identitas kaum kulit hitam, yang kemudian bertemali erat dengan keberadaan musik reggae, mulai disemai pada awal abad ke-20. Adalah Marcus Mosiah Garvey, seorang pendeta dan aktivis kulit hitam Jamaika, yang melontarkan gagasan “Afrika untuk Bangsa Afrika…” dan menyerukan gerakan repatriasi (pemulangan kembali) masyarakat kulit hitam di luar Afrika. Pada tahun 1914, Garvey mendirikan Universal Negro Improvement Association (UNIA), gerakan sosio-religius yang dinilai sebagai gerakan kesadaran identitas baru bagi kaum kulit hitam.
Pada tahun 1916-1922, Garvey meninggalkan Jamaika untuk membangun markas UNIA di Harlem, New York. Konon sampai tahun 1922, UNIA memiliki lebih dari 7 juta orang pengikut. Antara tahun 1928-1930 Garvey kembali ke Jamaika dan terlibat dalam perjuangan politik kaum hitam dan pada tahun 1929 Garvey meramalkan datangnya seorang raja Afrika yang menandai pembebasan ras kulit hitam dari penindasan kaum Babylon (sebutan untuk pemerintah kolonial kulit putih—merujuk pada kisah kitab suci tentang kaum Babylon yang menindas bangsa Israel). Ketika Ras Tafari Makonnen dinobatkan sebagai raja Ethiopia di tahun 1930, yang bergelar HIM Haile Selassie I, para pengikut ajaran Garvey menganggap Ras Tafari sebagai sosok pembebas itu. Mereka juga menganggap Ethiopia sebagai Zion—tanah damai bak surga—bagi kaum kulit hitam di dalam maupun luar Afrika. Ajaran Garvey pun mewujud menjadi religi baru bernama Rastafari dengan Haile Selassie sebagai sosok yang di-tuhan-kan.
Pada bulan April 1966, karena ancaman pertentangan sosial yang melibatkan kaum Rasta, pemerintah Jamaika mengundang HIM Haile Selassie I untuk berkunjung menjumpai penghayat Rastafari. Dia menyampaikan pesan menyediakan tanah di Ethiopia Selatan untuk repatriasi Rasta. Namun Haile Selassie juga menekankan perlunya Rasta untuk membebaskan Jamaika dari penindasan dan ketidak adilan dan menjadikan Rastafari sebagai jalan hidup, sebelum mereka eksodus ke Ethiopia.
Tahun-tahun setelahnya kredo gerakan tersebut makin tersebar luas, yakni “Bersatunya kemanusiaan adalah pesannya, musik adalah modus operandinya, perdamaian di bumi seperti halnya di surga (Zion) adalah tujuannya, memperjuangkan hak adalah caranya dan melenyapkan segala bentuk penindasan fisik dan mental adalah esensi perjuangannya.” Ketika Bob Marley menjadi pengikut Rastafari di tahun 1967 dan setahun kemudian disusul kelahiran reggae, maka modus operandi penyebaran ajaran Rastafari pun ditemukan: reggae!
Biography bob Marley atau bernama lengkap Robert nesta Marley
Terlahir dengan nama Robert Nesta Marley pada Februari 1945 di St. Ann, Jamaika, Bob Marley berayahkan seorang kulit putih dan ibu kulit hitam. Pada tahun 1950-an Bob beserta keluarganya pindah ke ibu kota Jamaika, Kingston. Di kota inilah obsesinya terhadap musik sebagai profesi menemukan pelampiasan. Waktu itu Bob Marley banyak mendengarkan musik R&B dan soul, yang kemudian hari menjadi inspirasi irama reggae, melalui siaran radio Amerika.
Selain itu di jalanan Kingston dia menikmati hentakan irama Ska dan Steadybeat dan kemudian mencoba memainkannya sendiri di studio-studio musik kecil di Kingston.
Bersama Peter McIntosh dan Bunny Livingston, Bob membentuk The Wailing Wailers yang mengeluarkan album perdana di tahun 1963 dengan hit “Simmer Down”. Lirik lagu mereka banyak berkisah tentang “rude bwai” (rude boy), anak-anak muda yang mencari identitas diri dengan menjadi berandalan di jalanan Kingston. The Wailing Wailers bubar pada pertengahan 1960-an dan sempat membuat penggagasnya patah arang hingga memutuskan untuk berkelana di Amerika.
Pada bulan April 1966 Bob kembali ke Jamaika, bertepatan dengan kunjungan HIM Haile Selassie I —raja Ethiopia– ke Jamaika untuk bertemu penganut Rastafari. Kharisma sang raja membawa Bob menjadi penghayat ajaran Rastafari pada tahun 1967, dan bersama The Wailer, band barunya yang dibentuk setahun kemudian bersama dua personil lawas Mc Intosh dan Livingston, dia menyuarakan nilai-nilai ajaran Rasta melalui reggae. Penganut Rastafari lantas menganggap Bob menjalankan peran profetik sebagaimana para nabi, menyebarkan inspirasi dan nilai Rasta melalui lagu-lagunya.
The Wailers bubar di tahun 1971, namun Bob segera membentuk band baru bernama Bob Marley and The Wailers. Tahun 1972 album Catch A Fire diluncurkan. Menyusul kemudian Burning (1973–berisi hits “Get Up, Stand Up” dan “ I Shot the Sheriff” yang dipopulerkan Eric Clapton), Natty Dread (1975), Rastaman Vibration (1976) dan Uprising (1981) yang makin memantapkan reggae sebagai musik mainstream dengan Bob Marley sebagai ikonnya.
Pada tahun 1978, Bob Marley menerima Medali Perdamaian dari PBB sebagai penghargaan atas upayanya mempromosikan perdamaian melalui lagu-lagunya. Sayang, kanker mengakhiri hidupnya pada 11 Mei 1981 saat usia 36 tahun di ranjang rumah sakit Miami, AS, seusai menggelar konser internasional di Jerman. Sang Nabi kaum Rasta telah berpulang, namun inspirasi humanistiknya tetap mengalun sepanjang zaman.
Tony Q Rastafara Presiden Reggae Indonesia
Pria
asal Semarang, kota kecil di Jawa tengah, Indonesia, terlahir dengan nama Tony
Waluyo Sukmoasih. Lahir dari keluarga sederhana, bakat seni nya telah terihat
sejak masa kanak-kanak terutama di dalam bidang seni lukis dan musik.Tony
berkenalan dengan dunia musik melalui teman-temannya dan banyak terpengaruhi
oleh jenis musik rock dan blues.
Selepas menyelesaikan pendidikannya di sekolah kejuruan tehnik (STM) Tony memutuskan untuk memulai karier bermusiknya di kota semarang sebagi pemusik jalanan sejak tahun 1980, hingga membuatnya dekat dengan kehidupan musisi jalanan kota Semarang. Di kota kelahirannya tersebut, Tony sempat membuat album kompilasi anak jalanan dengan teman-temannya dan pernah menjuarai beberapa festival musik jalanan.
Karena ingin mencoba tantangan baru dalam bermusik maka dia pun hijrah dan mencoba mengadu nasib ke Jakarta, ibukota Indonesia. Karena kehidupannya yang dekat dengan musisi jalanan, Tony pun kembali masuk ke komunitas yang sama di Jakarta. Dengan bantuan dari seorang teman yang terlebih dahulu berkecimpung di dunia musisi jalanan Jakarta, Tony pun memberanikan niatnya untuk memulai karier musik di Jakarta sebagai pengamen. Menghibur dan bermain musik dari satu tempat ke tempat lainnya di seputaran pinggiran jalan Jakarta.
Di pertengahan tahun 1984, atas anjuran seorang teman, Tony mulai berkenalan dengan musik country dan mulai mencoba memainkan jenis musik yang pada saat itu belum terlalu populer di kalangan masyarakat Indonesia karena belum banyak musisi yang memainkan genre musik tersebut. Dari eksistensinya bermain musik country, Tony mulai mendapat teman dari kalangan ekspatriat di Jakarta, salah satunya adalah teman-teman dari komunitas kedutaan amerika serikat di Jakarta. Beberapa kali Tony di undang untuk tampil di acara-acara yang diselenggarakan oleh kedutaan amerika serikat dan atas bantuan dari teman-teman di kedutaan dia berhasil mendapatkan undangan untuk bermain di salah satu festival musik country terbesar di amerika yaitu Grand Old Opree yang bertempat di Tennese Amerika Serikat. Akan tetapi dikarenakan kurang adanya dukungan secara finansial, rencana untuk tampil di festival tersebut tidak dapat terealisasikan. Sekian lama bermain musik country Tony mulai merasakan kejenuhan dan merasa bahwa kariernya di musik country tidak berkembang hingga dia memutuskan untuk keluar dari band countrynya dan mulai mencoba mencari jenis musik lain yang lebih sesuai dengan jiwanya.
Tony mulai berkenalan dengan musik reggae di awal tahun 1989, ketika ia jatuh cinta pada sosok legenda musik reggae Bob Marley. Tidak saja terinspirasi dengan musiknya, lirik-lirik lagu dalam setiap Bob Marley benar-benar mengusik naluri bermusiknya, hingga ia yakin untuk memilih berkarier di musik reggae dan mulai mencoba eksis di genre musik tersebut. Di tahun yang sama Tony membentuk band reggae pertamanya yang diberi nama “Roots Rock Reggae”. Band pertamanya tersebut mulai mengawali kariernya dengan main di pub dan cafe-cafe seputaran Jakarta memainkan lagu-lagu milik Bob Marley,Jimmy Cliff dan lain-lain dengan Tony sebagai lead vocal dan lead guitar. Di dalam perjalanannya karier musik reggae nya, Tony sempat membentuk band-band reggae lainnya, seperti “Exodus”, kemudian “Rastaman” dan pada tahun 1994 dia membentuk band yang dikemudian hari ikut membesarkan namanya di dunia musik reggae Indonesia yaitu “Rastafara”.
Dengan Rastafara, karier musik Tony mulai menanjak, dikarenakan pada masa itu sangat jarang musisi band yang memainkan genre musik reggae di jakarta, maka Rastafara cukup dikenal luas di kalangn penikmat musik reggae. Rastafara pada saat itu dianggap sebagai pelopor musik reggae Indonesia dikarenakan merupakan satu-satunya band reggae yang berani untuk membawakan lagu ciptaan sendiri dan berusaha lepas dari bayang-bayang musik reggae ala jamaika dan hampir keseluruhan lagu-lagu Rastafara di ciptakan oleh Tony.
Pada tahun 1995, atas bantuan seorang teman, Rastafara berhasil mendapatkan tawaran untuk rekaman album dari Warner Music Indonesia. Dan akhirnya album perdana bertajuk “Rambut Gimbal” di rilis pada tahun 1996. Album tersebut mendapat respon yang sangat baik, dan berhasil memberikan warna baru dalam industri musik Indonesia yang pada saat itu sedang di dominasi oleh musik Alternative Rock. Hampir semua lagu-lagu di album tersebut diciptakan sendiri oleh Tony ,lirik lagunya kebanyakan bercerita tentang tema sosial, kemanusiaan, cinta dan tema kehidupan masyarakat sehari-hari. Lagunya yang cukup populer pada masa itu adalah “Rambut Gimbal” sebuah istilah untuk style rambut Dreadlock dalam bahasa asing yang kemudian secara tidak langsung dijadikan istilah dalam bahasa Indonesia dan menjadi populer dikarenakannya lagu tersebut.
Perbedaan Rastafara pada saat itu dengan band reggae lainnya adalah karena mereka berhasil memasukan dan memadukan unsur-unsur musik tradisional dengan gaya khas Indonesia kedalam musiknya sehingga terbentuklah musik reggae ala Indonesia yang bisa terlepas dari bayang-bayang musik reggae dunia seperti Bob Marley, UB40 atau Jimmy Cliff. Penggunaan alat-alat musik tradisional seperti Kendang sunda atau Gamelan jawa juga ikut menambah warna musik Indonesia didalam lagu-lagu Rastafara. Aransemen musiknya sepintas juga terlihat mencampurkan unsur-unsur musik melayu.
Pada tahun 1997, kontrak album dengan label musik nya tidak diperpanjang dan Rastafara memutuskan untuk vakum dalam bermusik, hingga akhirnya Tony memutuskan untuk membentuk band baru dengan tetap membawa nama Rastafara.
Pada tahun 1998 terbentuklah Tony Q & New Rastafara, dengan format band additional player. Tetapi kemudian Tony memutuskan untuk bersolo karier dengan tetap membawa nama bandnya Tony Q Rastafara, yang berhasil merilis album secara independent pada tahun 2000 yaitu “Damai Dengan Cinta”. Pada album ke tiganya ini lah Tony mulai menapaki puncak kariernya dalam musik reggae di Indonesia, karena album inilah seorang Professor di bidang musik dari Amerika memberikannya referensi kepadanya untuk ikut dalam ajang Bob Marley Festival di Amerika. Pihak penyelenggara Festival menyukai lagu-lagu yang ada di album tersebut dan kemudian mengundang Tony untuk tampil diacara tersebut pada tahun 2002, tapi sayang sekali Tony beserta rombongannya tidak mendapat izin visa dari Kedutaan Amerika dikarenakan alasan keamanan terkait dengan Tragedi WTC 11 September di Amerika yang terjadi berdekatan dengan rencana keberangkatan Tony ke Amerika.
Pada tahun 2003 albumnya yang ke empat berjudul “Kronologi” di rilis, lagu pada album tersebut merupakan kumpulan dari beberapa lagu dari album-album sebelumnya dan juga beberapa lagu yang belum sempat dirilis.
Kedekatan Tony dengan aktivis LSM dan NGO seperti Green Peace, WALHI,dan lain-lain memberikannya inspirasi untuk membuat album yang mempunyai visi dan misi sosial dan kemanusian yang lebih mendalam dan berarti. Maka pada tahun 2005 lahirlah album kelimanya yang bertitel “Salam Damai” dengan membawa misi dan visi yang ingin disampaikan tentang perdamaian, dalam album ini Tony Q mencoba menggabungkan musik reggae dengan unsur musik orchestra tetapi tidak lupa memasukan unsur tradisional yang semakin kental.
Di penghujung tahun 2005, kembali atas bantuan referensi dari teman lamanya, Professor musicology dari Amerika Serikat, salah satu lagu dari album ketiganya “Damai Dengan Cinta” yaitu “Pat Gulipat” berhasil masuk dalam Album kompilasi musik dunia Putumayo World Music dengan titel “Reggae Playground” yang telah dirilis secara Internasional pada bulan Februari 2006. Sebagai satu-satunya wakil dari benua Asia hal ini juga tidak saja mengaharumkan nama Tony Q sendiri tetapi juga nama Indonesia di mata dunia dan khususnya Musik Reggae ala Indonesia juga dapat lebih dikenal secara Internasional.
Setelah sekian lama berkecimpung di dunia indie label, maka Tony pun mencoba untuk kembali merilis albumnya di major label pada tahun 2007 dengan titel “Anak Kampung”.Nuansa album ke enam nya ini masih mencoba untuk memadukan unsur musik reggae dengan tradisional indonesia dan semakin didominasi oleh lagu-lagu yang bertema sosial, membuat musiknya pun banyak digemari oleh masyarakat kelas menengah kebawah terutama mereka yang berasal dari wilayah luar Jakarta.
Basis penggemar yang semakin berkembang, Tony pun mulai mencoba memfasilitasi keinginan penggemarnya dengan membentuk fans club yang tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia hingga sampai ke negeri tetangga Singapore, Malaysia dan Australia. Pada awal tahun 2009 bertepatan dengan berlangsungnya pesta demokrasi di Indonesia yaitu pemilihan umum Presiden, Tony pun kembali merilis album ke tujuhnya secara independen dengan titel “Presiden” proses rekaman album ini pun sepenuhnya di lakukan di Sydney, Australia. Di album terbarunya tersebut Tony benar-benar ingin memberikan nuansa dan tema politik yang cukup kental demi menyambut dan menanggapi jalannya pemilihan umum Presiden Indonesia.Aransemen musiknya pun semakin bervariasi, Tony kembali bernostalgia dengan musik country, dimana ia coba memasukan unsur gitar banjo khas musik country di album tersebut.
Pada pertengahan tahun 2009, setelah melalui proses yang cukup panjang maka demo lagu yang pernah coba di tawarkan pada sebuah label world musik bernama Cumbancha dari Amerika Serikat milik mantan A&R dari label world music Putumayo, Jacob Edgar,dari Amerika Serikat sejak tahun 2008 pun akhirnya berhasil mencapai kesepakatan. Cumbancha memberikan kesempatan dan tawaran untuk merilis lagu-lagu Tony secara internasional. Album itu sendiri rencananya akan di rilis tahun 2010 secara internasional yang juga akan di edarkan di Indonesia.
Selepas menyelesaikan pendidikannya di sekolah kejuruan tehnik (STM) Tony memutuskan untuk memulai karier bermusiknya di kota semarang sebagi pemusik jalanan sejak tahun 1980, hingga membuatnya dekat dengan kehidupan musisi jalanan kota Semarang. Di kota kelahirannya tersebut, Tony sempat membuat album kompilasi anak jalanan dengan teman-temannya dan pernah menjuarai beberapa festival musik jalanan.
Karena ingin mencoba tantangan baru dalam bermusik maka dia pun hijrah dan mencoba mengadu nasib ke Jakarta, ibukota Indonesia. Karena kehidupannya yang dekat dengan musisi jalanan, Tony pun kembali masuk ke komunitas yang sama di Jakarta. Dengan bantuan dari seorang teman yang terlebih dahulu berkecimpung di dunia musisi jalanan Jakarta, Tony pun memberanikan niatnya untuk memulai karier musik di Jakarta sebagai pengamen. Menghibur dan bermain musik dari satu tempat ke tempat lainnya di seputaran pinggiran jalan Jakarta.
Di pertengahan tahun 1984, atas anjuran seorang teman, Tony mulai berkenalan dengan musik country dan mulai mencoba memainkan jenis musik yang pada saat itu belum terlalu populer di kalangan masyarakat Indonesia karena belum banyak musisi yang memainkan genre musik tersebut. Dari eksistensinya bermain musik country, Tony mulai mendapat teman dari kalangan ekspatriat di Jakarta, salah satunya adalah teman-teman dari komunitas kedutaan amerika serikat di Jakarta. Beberapa kali Tony di undang untuk tampil di acara-acara yang diselenggarakan oleh kedutaan amerika serikat dan atas bantuan dari teman-teman di kedutaan dia berhasil mendapatkan undangan untuk bermain di salah satu festival musik country terbesar di amerika yaitu Grand Old Opree yang bertempat di Tennese Amerika Serikat. Akan tetapi dikarenakan kurang adanya dukungan secara finansial, rencana untuk tampil di festival tersebut tidak dapat terealisasikan. Sekian lama bermain musik country Tony mulai merasakan kejenuhan dan merasa bahwa kariernya di musik country tidak berkembang hingga dia memutuskan untuk keluar dari band countrynya dan mulai mencoba mencari jenis musik lain yang lebih sesuai dengan jiwanya.
Tony mulai berkenalan dengan musik reggae di awal tahun 1989, ketika ia jatuh cinta pada sosok legenda musik reggae Bob Marley. Tidak saja terinspirasi dengan musiknya, lirik-lirik lagu dalam setiap Bob Marley benar-benar mengusik naluri bermusiknya, hingga ia yakin untuk memilih berkarier di musik reggae dan mulai mencoba eksis di genre musik tersebut. Di tahun yang sama Tony membentuk band reggae pertamanya yang diberi nama “Roots Rock Reggae”. Band pertamanya tersebut mulai mengawali kariernya dengan main di pub dan cafe-cafe seputaran Jakarta memainkan lagu-lagu milik Bob Marley,Jimmy Cliff dan lain-lain dengan Tony sebagai lead vocal dan lead guitar. Di dalam perjalanannya karier musik reggae nya, Tony sempat membentuk band-band reggae lainnya, seperti “Exodus”, kemudian “Rastaman” dan pada tahun 1994 dia membentuk band yang dikemudian hari ikut membesarkan namanya di dunia musik reggae Indonesia yaitu “Rastafara”.
Dengan Rastafara, karier musik Tony mulai menanjak, dikarenakan pada masa itu sangat jarang musisi band yang memainkan genre musik reggae di jakarta, maka Rastafara cukup dikenal luas di kalangn penikmat musik reggae. Rastafara pada saat itu dianggap sebagai pelopor musik reggae Indonesia dikarenakan merupakan satu-satunya band reggae yang berani untuk membawakan lagu ciptaan sendiri dan berusaha lepas dari bayang-bayang musik reggae ala jamaika dan hampir keseluruhan lagu-lagu Rastafara di ciptakan oleh Tony.
Pada tahun 1995, atas bantuan seorang teman, Rastafara berhasil mendapatkan tawaran untuk rekaman album dari Warner Music Indonesia. Dan akhirnya album perdana bertajuk “Rambut Gimbal” di rilis pada tahun 1996. Album tersebut mendapat respon yang sangat baik, dan berhasil memberikan warna baru dalam industri musik Indonesia yang pada saat itu sedang di dominasi oleh musik Alternative Rock. Hampir semua lagu-lagu di album tersebut diciptakan sendiri oleh Tony ,lirik lagunya kebanyakan bercerita tentang tema sosial, kemanusiaan, cinta dan tema kehidupan masyarakat sehari-hari. Lagunya yang cukup populer pada masa itu adalah “Rambut Gimbal” sebuah istilah untuk style rambut Dreadlock dalam bahasa asing yang kemudian secara tidak langsung dijadikan istilah dalam bahasa Indonesia dan menjadi populer dikarenakannya lagu tersebut.
Perbedaan Rastafara pada saat itu dengan band reggae lainnya adalah karena mereka berhasil memasukan dan memadukan unsur-unsur musik tradisional dengan gaya khas Indonesia kedalam musiknya sehingga terbentuklah musik reggae ala Indonesia yang bisa terlepas dari bayang-bayang musik reggae dunia seperti Bob Marley, UB40 atau Jimmy Cliff. Penggunaan alat-alat musik tradisional seperti Kendang sunda atau Gamelan jawa juga ikut menambah warna musik Indonesia didalam lagu-lagu Rastafara. Aransemen musiknya sepintas juga terlihat mencampurkan unsur-unsur musik melayu.
Pada tahun 1997, kontrak album dengan label musik nya tidak diperpanjang dan Rastafara memutuskan untuk vakum dalam bermusik, hingga akhirnya Tony memutuskan untuk membentuk band baru dengan tetap membawa nama Rastafara.
Pada tahun 1998 terbentuklah Tony Q & New Rastafara, dengan format band additional player. Tetapi kemudian Tony memutuskan untuk bersolo karier dengan tetap membawa nama bandnya Tony Q Rastafara, yang berhasil merilis album secara independent pada tahun 2000 yaitu “Damai Dengan Cinta”. Pada album ke tiganya ini lah Tony mulai menapaki puncak kariernya dalam musik reggae di Indonesia, karena album inilah seorang Professor di bidang musik dari Amerika memberikannya referensi kepadanya untuk ikut dalam ajang Bob Marley Festival di Amerika. Pihak penyelenggara Festival menyukai lagu-lagu yang ada di album tersebut dan kemudian mengundang Tony untuk tampil diacara tersebut pada tahun 2002, tapi sayang sekali Tony beserta rombongannya tidak mendapat izin visa dari Kedutaan Amerika dikarenakan alasan keamanan terkait dengan Tragedi WTC 11 September di Amerika yang terjadi berdekatan dengan rencana keberangkatan Tony ke Amerika.
Pada tahun 2003 albumnya yang ke empat berjudul “Kronologi” di rilis, lagu pada album tersebut merupakan kumpulan dari beberapa lagu dari album-album sebelumnya dan juga beberapa lagu yang belum sempat dirilis.
Kedekatan Tony dengan aktivis LSM dan NGO seperti Green Peace, WALHI,dan lain-lain memberikannya inspirasi untuk membuat album yang mempunyai visi dan misi sosial dan kemanusian yang lebih mendalam dan berarti. Maka pada tahun 2005 lahirlah album kelimanya yang bertitel “Salam Damai” dengan membawa misi dan visi yang ingin disampaikan tentang perdamaian, dalam album ini Tony Q mencoba menggabungkan musik reggae dengan unsur musik orchestra tetapi tidak lupa memasukan unsur tradisional yang semakin kental.
Di penghujung tahun 2005, kembali atas bantuan referensi dari teman lamanya, Professor musicology dari Amerika Serikat, salah satu lagu dari album ketiganya “Damai Dengan Cinta” yaitu “Pat Gulipat” berhasil masuk dalam Album kompilasi musik dunia Putumayo World Music dengan titel “Reggae Playground” yang telah dirilis secara Internasional pada bulan Februari 2006. Sebagai satu-satunya wakil dari benua Asia hal ini juga tidak saja mengaharumkan nama Tony Q sendiri tetapi juga nama Indonesia di mata dunia dan khususnya Musik Reggae ala Indonesia juga dapat lebih dikenal secara Internasional.
Setelah sekian lama berkecimpung di dunia indie label, maka Tony pun mencoba untuk kembali merilis albumnya di major label pada tahun 2007 dengan titel “Anak Kampung”.Nuansa album ke enam nya ini masih mencoba untuk memadukan unsur musik reggae dengan tradisional indonesia dan semakin didominasi oleh lagu-lagu yang bertema sosial, membuat musiknya pun banyak digemari oleh masyarakat kelas menengah kebawah terutama mereka yang berasal dari wilayah luar Jakarta.
Basis penggemar yang semakin berkembang, Tony pun mulai mencoba memfasilitasi keinginan penggemarnya dengan membentuk fans club yang tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia hingga sampai ke negeri tetangga Singapore, Malaysia dan Australia. Pada awal tahun 2009 bertepatan dengan berlangsungnya pesta demokrasi di Indonesia yaitu pemilihan umum Presiden, Tony pun kembali merilis album ke tujuhnya secara independen dengan titel “Presiden” proses rekaman album ini pun sepenuhnya di lakukan di Sydney, Australia. Di album terbarunya tersebut Tony benar-benar ingin memberikan nuansa dan tema politik yang cukup kental demi menyambut dan menanggapi jalannya pemilihan umum Presiden Indonesia.Aransemen musiknya pun semakin bervariasi, Tony kembali bernostalgia dengan musik country, dimana ia coba memasukan unsur gitar banjo khas musik country di album tersebut.
Pada pertengahan tahun 2009, setelah melalui proses yang cukup panjang maka demo lagu yang pernah coba di tawarkan pada sebuah label world musik bernama Cumbancha dari Amerika Serikat milik mantan A&R dari label world music Putumayo, Jacob Edgar,dari Amerika Serikat sejak tahun 2008 pun akhirnya berhasil mencapai kesepakatan. Cumbancha memberikan kesempatan dan tawaran untuk merilis lagu-lagu Tony secara internasional. Album itu sendiri rencananya akan di rilis tahun 2010 secara internasional yang juga akan di edarkan di Indonesia.
Selasa, 10 September 2013
Siapa Bob Marley?
Nama sebenar Bob Marley ialah Robert Nesta Marley.
Bob Marley seorang penyanyi, penulis lagu, gitaris dan aktivis di Jamaica. Beliau dilahirkan pada tanggal 6 Februari 1945 di Nine Miles, Saint Ann Parish, Jamaica. Bob Marley berkecimpung dalam kariernya bersama dengan The Wailers, kumpulan yang beliau bentuk bersama Peter Tosh dan Bunny Livingston pada tahun 1963. Bob Marley berkahwin dengan Rita Marley pada February 1966. Dan Rita-lah yang memperkenalkan Bob pada Rastafarian.
Pada tahun 1969, Bob, Tosh dan Livingston secara penuh telah memeluk Rastafarianism, yang sangat berpengaruh dengan musik mereka dan reggae pada umumnya! The Wailers bergabung dengan Lee Scratch Perry, menghasilkan hit-hit unggulan seperti Soul Rebel, Duppy Conquerer, 400 Years dan Small Axe! Gabungan tersebut berakhir pahit karena Perry menjualnya di Inggris tanpa persetujuan the Wailers! Namun peristiwa tersebut berbuah manis, Chris Blackwell, pemilik Island Records mengontrak the Wailers dan memproduseri album mereka CATCH A FIRE dan BURNING.
Bob Marley seorang penyanyi, penulis lagu, gitaris dan aktivis di Jamaica. Beliau dilahirkan pada tanggal 6 Februari 1945 di Nine Miles, Saint Ann Parish, Jamaica. Bob Marley berkecimpung dalam kariernya bersama dengan The Wailers, kumpulan yang beliau bentuk bersama Peter Tosh dan Bunny Livingston pada tahun 1963. Bob Marley berkahwin dengan Rita Marley pada February 1966. Dan Rita-lah yang memperkenalkan Bob pada Rastafarian.
Pada tahun 1969, Bob, Tosh dan Livingston secara penuh telah memeluk Rastafarianism, yang sangat berpengaruh dengan musik mereka dan reggae pada umumnya! The Wailers bergabung dengan Lee Scratch Perry, menghasilkan hit-hit unggulan seperti Soul Rebel, Duppy Conquerer, 400 Years dan Small Axe! Gabungan tersebut berakhir pahit karena Perry menjualnya di Inggris tanpa persetujuan the Wailers! Namun peristiwa tersebut berbuah manis, Chris Blackwell, pemilik Island Records mengontrak the Wailers dan memproduseri album mereka CATCH A FIRE dan BURNING.
Pada tahun 1976, Bob
Marley berpindah ke Inggeris! Walaubagaimanapun kariernya tidak sepi,, EXODUS
berhasil dengan jayanya di British charts selama 56 minggu। Kejayaan ini diikuti album berikutnya, iaitu KAYA
kejayaan tersebut mampu menghantarkan musik reggae ke dunia barat untuk pertama
kalinya
Pada tahun 1977, Bob
Marley disahkan mempunyai penyakit kanser kulit, Namun, disembunyikan dari
publik. Bob Marley kembali ke Jamaica tahun 1978, dan mengeluarkan SURVIVAL
pada tahun 1979 diikuti oleh kejayaan dari keliling Eropah. Bob Marley
mempersembahkan 2 pertunjukan di Madison Square Garden dalam rangka untuk
menarik minat warga kulit hitam di Amerika Syarikat. Namun pada tanggal 21
September 1980, Bob Marley pengsan saat beliau berjogging di NYC's
Central Park. Kansernya telah merebak sampai ke otak, paru-paru dan perut.
Penyanyi reggae inipun akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir di
Hospital Miami pada 11 Mei 1981 di usia 36 tahun, dengan meninggalkan
seorang isteri dan 5 orang anak.
Langganan:
Postingan (Atom)

